Andragogi Sebuah Pembeda dalam Pelatihan (Bagian 1)

Sekilas Pembelajaran dan Belajar

Saat ini banyak sekali kekeliruan yang terjadi bahkan salah konsep antara pembelajaran dengan belajar. Pembelajaran menurut Smith:1982 menyatakan bahwa pembelajaran merupakan sesuatu yang rumit sehingga sukar didefinisikan. Pembelajaran adalah suatu proses yang berlangsung dalam memperoleh pengalaman, berinteraksi dengan lingkungan. Sedangkan belajar masih menurut Smith:1982; perguson:1980 menyatakan bahwa belajar pada intinya adalah:

  1. Perubahan sikap karena memperoleh pengetahuan dan keterampilan;
  2. Pemerolehan pengetahuan dan keterampilan;
  3. Pengayaan pengetahuan, pendalaman, penyegaran pengalaman yang dimiliki;
  4. Redifinisi, refungsionalisasi pengalaman;
  5. Bersifat pribadi.

Dari uraian di atas, jelas sekali bahwa belajar lebih bersifat pribadi sedangkan pembelajaran ada interaksi baik dari lingkungan ataupun dari arahan fasilitatornya baik guru, instruktur ataupun dosen.

Sekilas Andragogi

Pada suatu saat dalam perkulihan Prof. H. Dadang Suhardan, M.Pd menguraikan bahwa pada dasarnya karakteristik dari pembelajaran andragogi adalah:

  1. Biasanya digunakan untuk memenuhi suatu kebutuhan atau mencapai tujuan;
  2. Suatu cara untuk mengikuti perkembangan jaman;
  3. Sikap mental proaktif dalam mengikuti keadaan  yang berubah;
  4. Tamasya budaya/transformasi persepsi, penyesuaian diri, menguatkan pemahaman, menyusun paradigm baru berdasarkan informasi terkini
  5. Cara cepat membantu mengatasi efek negative dari perkembangan biologis, fisik dan kepribadian. Seperti ditinggalkan keluarga dekat, perceraian dengan yang di cintai, pension, perasaan kesepian.

Empat dasar karakteristik andragogi

Dari beragai hasil bacaan dan pengalaman saya yang pernah menjadi instruktur dan fasilitator pelatihan, karakteristik andragogi pada dasarnya memiliki empat karakteristik umum.

Empat karakteristik andragogi tersebut diantaranya pertama dalam hal konsep diri yang menjadi fokus utama, kemudian kedua membangun pengalaman sebagai kronstruk mendapatkan knowledge dan skill. Ketiga yaitu cara belajar yang lebih menuju pada kemandirian dan keempat strategi dalam proses belajar mengajar yang dapat dijadikan landasan oleh facilitator ataupun instruktur pelatihan.

Empat karakteristik itu dapat menjadi landasan utama dalam penyelenggaraan pelatihan. Semoga bermanfaat. Kenyataan di lapangan dalam proses pelatihan empat karakteristik dasar dalam andragogi tersebut tidak banyak diketahui oleh penyelenggara pelatihan, sehingga pelatihan terkadang hanya baru berada pada tataran terlaksana bukan raihan kebermaknaan yang di tuju.

Ada strategi yang harus di lakukan jika kita sebagai penyelenggara pelatihan salah satu contohnya adalah instruktur/facilitator pelatihan wajib hukumnya mengetetahui, memahami, mempraktekan, menganalisa sampai pada mengevaluasi implementasi keilmuan dalam kajian andragogi. Bisa dilakukan dengan sering membaca, sering mengkaji bahkan mulai melakakukan evaluasi diri sebagai instrtruktu/facilitator.

(Jika ingin menjadi seorang instruktur/facilitator kita harus mendalami ilmu pendidikan, jika tidak tidak akan seperti nahkoda yang membawa kapal tanpa memakai navigasi sebagai alatnya sehingga hanya bisa terombang ambing tanpa tujuan yang jelas)

(Asep Iryanto)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: